Berita Photo Terkini
print this page
Artikel Terkini

Jajaran Polres Sidoarjo Siap Jaga Arus Mudik dan Rekap Pilpres 2014

SIDOARJO – Jelang pengumunan hasil rekapitulasi Pilpres 2014 dan arus mudik Lebaran 2014, Polres Sidoarjo gelar apel kesiapan pasukan di halaman Mapolres Sidoarjo, Sabtu (19/7/2014).

Selain kesiapan personil yang diterjunkan, juga dilakukan pengecekan kesiapan alat operasional pendukung pasukan mulai dari R2 dan R4. Pengecekan dilakukan lansung oleh Kapolres Sidoarjo AKBP Marjuki.

Menurut Kapolres Sidoarjo AKBP Marjuki pengecekan armada kendaraan bermotor yang dimiliki Polres Sidoarjo, untuk kesiapan dalam Ops Ketupat Semeru 2014 dan lainnya.

“Ada 536 personil Polres Sidoarjo dan jajaran Polsek yang diterjunkasn. Pasukan akan membawa bekal 25 kendaraan R4 patroli, 50 kendaraan R2 lantas dan Sabhara dan dua unit K-9,” terangnya.

kesiapan kendaraan yang akan dipakai dalam operasional, sangat penting. Mengingat kinerja dilapangan harus maksimal. “Jadi tidak ada alasan bagi anggota yang ditugaskan, tidak bekerja sesuai tugasnya,” tegasnya.

Masih kata Marjuki, adanya kesiapan kendaraan akan juga mempengaruhi pelayanan kepada masyarakat dalam pengamanan tanggal 22 Juli tentang pengumuman hasil rekapitulasi KPU tentang Pilpres.

Marjuki berpesan kepada para personil yang diberikan tugas untuk membawa armada tersebut agar selalu merawat dan menjaga kondisi kendaraan.

"Kendaraan ini dibeli dari uang rakyat. Maka para anggota yang membawa kendaraan harus benar-benar dijaga, mulai mesin, kebersihan dan lainnya," perintahnya.


Dalam apel kesiapan itu, Polres Sidoarjo juga mempertontonkan cara berkendara yang baik yang diperagakan oleh dua personil yang memakai motor trail.(dm)
0 komentar

Gelar Coblos Ulang TPS 27 Wonokromo, Prabowo Berbalik Menang Telak

SURABAYA - Pelaksanaan pemungutan suara ulang (PSU) di TPS 27 Kelurahan Jagir, Kecamatan Wonokromo, Surabaya, Sabtu (19/7/2014) hari ini dimenangkan pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa.

Sebelumnya, pada pilpres 9 Juli lalu, pasangan capres yang diusung Koalisi Merah Putih ini dinyatakan kalah dengan mendapat 69 suara, sementara rivalnya, pasangan Jokowi-Jusuf Kalla yang diusung PDIP bersama partai koalisi lainnya unggul dengan perolehan 79 suara.

Belakangan hasil coblosan pada pilpres 9 Juli lalu di TPS 27 Kelurahan Jagir, Wonokromo itu dinyatakan terjadi kecurangan Bawaslu Jatim dan ditetapkan perlu dilakukan coblosan ulang. Coblosan ulang di TPS 27 Jagir Wonokromo menunjukkan pasangan Prabowo-Hatta membalik mengungguli Jokowi-JK dengan perolehan suara 50 berbanding 48, atau terpaut dua suara.

Menanggapi coblosan ulang di TPS 27 Kelurahan Jagir, Wonokromo itu Koordinator Relawan Indonesia Satu (RI-1), Ismet Rama, menyebut bahwa kemenangan yang diraih Prabowo-Hatta di TPS 27 itu menjawab kejujuran dari para pendukung Prabowo-Hatta.

"Meski hanya terpaut dua suara. Artinya, tudingan kecurangan khususnya dari para pendukung Prabowo telah terbantahkan. Kita menjawab kejujuran di TPS 27 Jagir Wonokromo," ungkapnya.

Ismet menandaskan, kejujuran dari hasil coblos ulang di TPS 27 Jagir Wonokromo ini sebenarnya mencerminkan kejujuran para pendukung Prabowo di TPS lain yang dinyatakan perlu dilakukan coblosan ulang. Ismet yakin, pencoblosan ulang yang ditetapkan di sejumlah TPS daerah lain juga akan dimenangkan Prabowo-Hatta. (sm)
0 komentar

Tim Pemenangan Prabowo Ajukan Surat Penundaan Penetapan Pilpres

JAKARTA - Tim pemenangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa mengklaim menemukan banyak bukti terjadinya kecurangan saat pemungutan pemilu presiden pada 9 Juli lalu.

Banyaknya pemilih yang hanya menggunakan Kartu Tanda Penduduk (KTP) saat mencoblos merupakan salah satu bukti terjadinya kecurangan secara sistematis, seperti yang terjadi di Surabaya, Jawa Timur.

Hal demikian dikatakan anggota Tim Kampanye Nasional Prabowo-Hatta, Andre Rosiade saat mengantarkan surat permohonan penundaan penetapan hasil Pilpres ke Gedung KPU, di Jalan Imam Bonjol, Jakarta Pusat, Sabtu (19/7/2014).

Menurut dia, permohonan penundaan tersebut dilakukan karena beberapa Badan Pengawas Pemilu daerah telah merekomendasikan dilakukannya Pemungutan Suara Ulang (PSU) di beberapa kabupaten/kota. Rekomendasi tersebut dikeluarkan karena terbukti terjadi kecurangan secara sistematis.

"Kami minta penundaan, agar pleno KPU ditunda, kita mengusahakan kenapa KPU ngotot penetapan 22 Juli, padahal Bawaslu daerah telah merekomendasikan PSU," jelas Andre.

Dia berharap KPU tak terburu-buru untuk melakukan pleno penetapan Pilpres. "Berikan PSU dulu, biar kecurangan itu bisa dieliminir, banyangkan sudah ada bukti seperti di Jatim dari tujuh kabupaten/kota ada enam kota yang direkomendasikan PSU oleh Bawaslu," tegas dia.

Dia membantah bahwa permohon penundaan tersebut merupakan bentuk ketidak legowo-an kubu Prabowo-Hatta terkait hasil Pilpres. Namun, lebih pada memperjuangkan keadilan.

"Yang jelas kita ajukan gugatan, agar sesuai aturan. Ini bukannya kami tidak terima tapi karena Pilpres berjalan tidak sesuai aturan," katanya.

Kata Andre, surat permohonan penundaan tersebut diantarkan oleh tim advokasi Prabowo-Hatta yaitu, Didik Supriyanto dan Firman Wijaya. (ful/hunter)
0 komentar

Ditreskoba Polda Jatim Bongkar Sindikat Narkoba LP Nusakambangan

SURABAYA - Subdit III/Narkoba Ditreskoba Polda Jatim membongkar sindikat narkoba dari Lembaga Pemasyarakatan (LP) Nusakambangan dengan menangkap Junaidi alias Johan (40) dari Dusun Krajan, Kecamatan Muncar, Kabupaten Banyuwangi.

"Tersangka sudah lama jadi incaran dan sekarang baru ditangkap. Dalam pemeriksaan, tersangka mengakui semua barang miliknya berasal dari S yang berada di Lapas Nusakambangan," kata Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Awi Setiyono di Surabaya.

Ia menjelaskan tersangka ditangkap polisi di kawasan Muncar melalui cara "undercover buy" dan polisi akhirnya menyita sabu-sabu sebanyak satu kantong plastik besar berisi 113 kantong plastik klip berisi sabu-sabu berat kotor 587,6 gram bersama bungkusnya.

"Satu kantong plastik klip berisi sabu-sabu berat kotor 95 gram dan satu bungkus plastik besar berisi lima poket klip berisi 20 butir pil ekstasi warna orange muda dengan jumlah keseluruhan 100 butir," katanya, didampingi Kasubdit III Narkoba AKBP Subagyo.

Menurut dia, harga setiap gram sabu-sabu mencapai Rp1,3 juta, sedangkan ekstasi dijual dengan harga Rp200 ribu. "Polisi juga menyita tiga timbangan elektrik, satu buah buku tabungan BCA, satu buah buku tabungan BCA atas nama N, dan tiga handphone," katanya.
Ia menambahkan tersangka mengakui sudah melakukan bisnis narkoba itu sejak tiga bulan lalu dan semua barang didapat dari S yang berada di Lapas Nusakambangan. Barang dikirim lewat jasa paket titipan kilat.

Akibat perbuatannya, pelaku dijerat Pasal 114 Ayat (2) dan atau Pasal 112 Ayat (2) UU RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dengan pidana mati, pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat enam tahun dan paling lama 20 tahun dan pidana denda maksimal Rp8 miliar sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) ditambah 1/3.

Selain sindikat narkoba dari Lapas Nusakambangan, Polda Jatim juga menangkap sindikat jaringan narkoba dari Lapas Madiun yang melibatkan bapak, anak, dan tetangga sebagai pengedar narkoba. "Kita tangkap ketiga pelaku bersama barang buktinya yang sumbernya dari seorang buron (DPO) yang berada di Lapas Madiun," kata Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Awi Setiyono.

Ketiga tersangka yang ditangkap adalah Ludiantoro alias Yanto (28) dan Badri (50) yang keduanya merupakan anak dan bapak dari RT 02/RW 10, Dusun Kesiman, Desa Lecari, Kecamatan Sukoreko, Pasuruan. Selain itu, tetangganya bernama Nurim (24) dari desa yang sama.

Barang bukti yang disita dari tangan tersangka adalah sabu-sabu seberat 35,77 gram yang terdiri dari lima poket besar yang masing-masing berat kotor 5,25 gram, 5,23 gram, 5,20 gram, 5,29 gram, dan 5,28 gram dalam kemasan kantong plastik klip besar.

Selain itu, sembilan poket kecil yang masing-masing berat kotor 1,06 gram sebanyak empat kantong, 1,07 gram sebanyak dua kantong, 1,04 gram sebanyak dua kantong, 1,05 gram sebanyak satu kantong yang semuanya dikemas kantong plastik yang dilinting dan diikat dengan isolasi. Barang bukti lainnya, sebuah Busstep beserta kunci, uang tunai Rp300 ribu, satu timbangan elektrik, dua handphone, dan pipet.

"Pengungkapan sindikat narkoba Pasuruan itu juga dilakukan dengan cara 'undercover buy' hingga tersangka Badri sebagai perantara jual beli sabu tertangkap pada Sabtu (5/7) sekitar pukul 23.00 WIB, lalu dikembangkan hingga anaknya bernama Ludianto dan tetangganya bernama Nurim pun tertangkap," katanya.

Saat diperiksa penyidik di Mapolda Jatim, Badri mengaku kalau barang terlarang itu dipesan lewat anaknya (Ludiantoro) yang beli kepada Rizal (DPO) sebanyak 10 gram dengan harga Rp1.150.000 per gram. Selanjutnya, barang diranjau oleh Badri di kawasan Japanan Mojokerto untuk dibuat paket hemat dengan harga Rp300 ribu dari anaknya dan dijual menjadi Rp325 ribu.

Akibat perbuatannya, pelaku dijerat Pasal 114 Ayat (2) dan atau Pasal 112 Ayat (2) UU RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dengan pidana mati, pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat enam tahun dan paling lama 20 tahun dan pidana denda maksimal Rp8 miliar sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) ditambah 1/3.
  (ful)
0 komentar

Dua Mahasiswa Pengedar Narkotika Dibekuk di Jember

JEMBER - Aparat Kepolisian Resor Jember, Jawa Timur, menangkap dua orang mahasiswa perguruan tinggi, karena terbukti mengedarkan narkotika dan obat-obatan terlarang jenis ganja di kawasan kampus.

"Kedua mahasiswa berinisial JS (22) asal Kabupaten Situbondo dan FI (24) asal Banyuwangi itu ditangkap di salah satu rumah kos-kosan di kawasan kampus yakni di Kecamatan Sumbersari," kata Kasat Narkoba Polres Jember AKP Sukari, Rabu (16/7/2014).

Dari tangan tersangka, lanjut dia, polisi menyita barang bukti sebanyak empat poket daun ganja kering seberat 3,25 gram dan sejumlah uang tunai yang diduga kuat sebagai hasil penjualan narkoba tersebut.

"Kedua tersangka sudah lama menjadi target operasi sejak terbongkarnya kasus serupa di Kecamatan Bangsalsari pada dua bulan lalu, sehingga polisi terus melakukan pengembangan untuk menangkap pelaku pengedar narkoba di kalangan mahasiswa itu," tuturnya.

Menurut dia, Satreskoba Polres Jember berusaha mengungkap peredaran narkoba di kawasan kampus dan mengembangkan penyelidikan lebih lanjut, meskipun jaringan kasus narkoba di Kecamatan Bangsalsari "tutup mulut" untuk memberikan keterangan lebih jauh kepada penyidik.

"Kami terus melakukan penyelidikan terhadap jaringan pengedar narkoba di kawasan kampus karena polisi yakin masih ada beberapa mahasiswa yang diduga terlibat dalam komplotan pengedar narkoba tersebut," katanya.

Kedua tersangka pengedar narkoba jenis ganja itu dijerat dengan pasal 114 ayat (1) sub 111 ayat (1) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dengan ancaman hukuman minimal empat tahun penjara dan maksimal 12 tahun penjara.

Sukari juga mengimbau kepada masyarakat untuk berperan aktif melaporkan adanya transaksi peredaran narkoba, apabila mengetahui ada warga setempat yang mengedarkan barang haram tersebut.

"Polisi juga tetap rutin melakukan razia di beberapa tempat hiburan malam yang diduga sebagai lokasi transaksi peredaran narkoba untuk menekan kasus peredaran narkoba di Kabupaten Jember," ujarnya.
  (ful)
0 komentar

Beroperasi Selama Ramadan, Tempat Karaoke di Bogor Disegel Satpol PP

BOGOR - Tempat hiburan malam Nada Lestari di Komplek Raja Dua Raja Blok E Desa Ciluar Kecamatan Sukaraja Kabupaten Bogor disegel petugas Satpol PP Kabupaten Bogor. Penyegelan dilakukan karena tempat hiburan tersebut tidak memiliki izin usaha dan tetap buka selama bulan Puasa.

Tempat hiburan malam yang letaknya bersembunyi di belakan Pasar Ciluar ini disegel dioperasikan sebagai tempat karaoke dan tempat menjual minuman keras. Kepala Bidang Pembinaan dan Pemeriksaan Satpol PP Kabupaten Bogor, Agus Ridho mengatakan tempat hiburan malam ini melanggar beberapa peraturan sehingga layak untuk disegel.

"Tempat karaoke Nada Lestari ini tidak mematuhi Peraturan Daerah No.8 Tahun 2006 Tentang Keteriban Umum masa Ramadan dimana H-3 dan H+3 puasa harus ditutup, tapi tempat ini malah terus beroperasi," jelasnya usai penyegelan, Selasa (15/7/2014).

Ia mengatakan tempat hiburan malam Nada Lwstari ini merupakan satu dari 100 lebih tempat hiburan yang membandel beroperasi selama bulan puasa dan akan disegel.

"Kami meminta agar pengelola segera melengkapi perijinan usaha 14 hari ke depan. Selain itu, pengelola juga wajib mematuhi Perda tentang penghentian sementara operasional tempat hiburan malam menghormati masa Ramadan," tuturnya.

Ia mengingatkan agar pemilik tempat hiburan malam tidak merusak segel yang telah terpasang, sebab bila dirusak akan dikenakan pidana. "Kalau terus masih membandel akan kita sita asetnya, selanjutnya bila masih beroperasi akan dicabut izinnya dan langkah selanjutnya akan kita bongkar," tukasnya. (ahm)
0 komentar

THR Belum Turun, Cleaning Service Nekat Merampok

DEPOK- AF (23), seorang petugas kebersihan gelap mata merampok rumah warga bernama Murti (23) Perumahan Graha Studio Alam, Sukmajaya, Depok. Hal tersebut dilakukan lantaran uang Tunjangan Hari Raya (THR)-nya belum turun.

"Korban mendengar ada suara berisik di ruang tengah. Lalu bangun. AF pun kemudian membekap mulut Murti dan mengancam jika teriak akan ditusuk dengan gunting. Korban malah berteriak kencang, sehingga membangunkan warga sekitar," kata Kapolsek Sukmajaya, Kompol Agus Widodo, Rabu (16/7/2014).

Menurut Agus, mendengar teriakan Murti, AF yang tinggal di Tebet, Jakarta Pusat pun kabur. Sempat terjadi kejar-kejaran dengan warga hingga hampir keluar gerbang perumahan.

"Barang bukti yang diamankan gunting dan lakban. Tersangka masuk ke rumah Murti dengan mencongkel jendela rumah, memang katanya butuh uang untuk lebaran," tuntasnya.(fid) (ahm)
0 komentar

Kapolda Metro Pastikan Tak Diskriminatif saat Menahan Dua Guru JIS

JAKARTA-  Setelah dua oknum guru Jakarta International School (JIS), Neil Bantlemen dan Ferdinand Tjiong ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan, pihak sekolah dan keluarga tersangka terus minta polisi mempertimbangkan keputusan tersebut.

Para Istri tersangka sempat meminta agar suaminya dibebaskan, karena tak bersalah dan tidak ada bukti yang kuat untuk menghukum keduanya.

Kepala Kepolisian Daerah Metro Jaya, Irjen Pol Dwi Priyatno, pun angkat bicara. Menurut dia, penyidik telah melakukan penyidikan kepada kedua tersangka.

"Dalam kasus ini kami tidak ada diskriminatif. Kalau memang terbukti ya ditahan, karena alat bukti memang ada," tegas Dwi saat ditemui di Mabes Polri, Jakarta, Rabu (16/7/2014).

Dwi menjelaskan, bukti yang akhirnya menjerat mereka untuk mendekam dalam jeruji berdasarkan keterangan dari saksi, korban, dan petunjuk lain yaitu keterangan ahli dan laboratorium.

Saat ditanyakan mengenai penanghuhan penahanan pada kedua tersangka, Dwi menjawab itu memang hak para tersangka.

"Kami juga pertimbangan lain supaya mereka tak melarikan diri," tuntas Dwi.(fid) (ahm)
0 komentar
 
Support : Desain Website | Editorial
Copyright © 2014. Info Rakyat.Com
Template By : Creating Website
Jangan Klik Punya Admin | Masuk